Transformasi Digital SMP di Kukar Kian Nyata, Chromebook dan IFP Ubah Pola Belajar

Karsaloka.com,Tenggarong – Transformasi digital pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) semakin terasa manfaatnya. Dukungan pemerintah daerah tidak hanya berhenti pada pengadaan Chromebook bagi siswa, tetapi juga dilengkapi dengan Interactive Flat Panel (IFP) yang memperkuat pembelajaran digital di ruang kelas.

Kepala SMP Negeri 1 Tenggarong, Imam Huzaeni, menyebut integrasi antara Chromebook dan IFP membuat proses belajar mengajar menjadi lebih interaktif, efektif, dan terarah. Guru dapat menyampaikan materi secara visual, sementara siswa terlibat aktif dalam pembelajaran berbasis teknologi.

“Pemanfaatannya sangat membantu. Anak-anak bisa belajar menggunakan Chromebook, sementara guru menyampaikan materi lewat Interactive Flat Panel. Ini sangat menunjang proses belajar mengajar,” ujar Imam, Rabu (14/1/26).

Ia menjelaskan, perangkat tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan pembelajaran, mulai dari Google Workspace for Education, pemutaran video edukasi, hingga diskusi interaktif di kelas. Dengan fasilitas yang memadai, proses belajar tidak lagi bergantung pada metode konvensional semata.

Dari sisi ketepatan sasaran, Imam menilai program ini menjawab kebutuhan sekolah secara nyata. Dengan jumlah siswa SMPN 1 Tenggarong yang mencapai sekitar 947 orang, hampir seluruh siswa telah difasilitasi Chromebook sesuai konsep satu siswa satu perangkat. Kondisi ini turut mengubah kebijakan sekolah terkait penggunaan gawai pribadi.

“Sebelumnya anak-anak membawa handphone ke sekolah. Setelah adanya Chromebook dari pemerintah, penggunaan HP kami larang karena semua sudah difasilitasi, ditambah ada WiFi dan perangkat pendukung seperti IFP,” jelasnya.

Meski begitu, kendala teknis tetap ditemukan, khususnya terkait pemeliharaan perangkat. Kerusakan Chromebook masih terjadi, namun dinilai wajar mengingat intensitas pemakaian yang tinggi. Selama masa garansi, perbaikan menjadi tanggung jawab penyedia, sementara setelah garansi berakhir, pemeliharaan dibebankan kepada pengguna.

“Selama pemakaian normal, tanggung jawab ada di penyedia saat masa garansi. Kalau sudah habis, tentu menjadi tanggung jawab pemegang atau pemakai, baik siswa maupun guru,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar Bidang SMP, Mujahidin, menegaskan bahwa pengadaan Chromebook dan Interactive Flat Panel merupakan bagian dari program transformasi digital pendidikan yang dibiayai melalui APBD Kukar. Program ini berbeda dengan bantuan pemerintah pusat yang jumlahnya relatif terbatas.

“Kalau dari pemerintah pusat biasanya hanya satu atau dua unit per sekolah. Sementara dari pemerintah kabupaten, jumlahnya bisa ratusan unit dan disesuaikan dengan jumlah siswa, termasuk perangkat pendukung seperti Interactive Flat Panel,” terang Mujahidin.

Ia menambahkan, meski bantuan dari pemerintah pusat tetap melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan daerah, skalanya tidak sebesar program yang didanai pemerintah kabupaten. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah dinilai krusial dalam memperluas dan memeratakan akses teknologi pendidikan.

Program transformasi digital ini telah berjalan sekitar dua hingga tiga tahun dan dinilai memberi dampak positif bagi sekolah. Namun, keberlanjutannya pada 2026 masih menunggu kepastian kebijakan dan anggaran. Pemerintah daerah berharap program yang mencakup Chromebook, IFP, dan jaringan internet ini dapat terus berlanjut demi peningkatan mutu pendidikan di Kukar.(AuliaRS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *