
Karsaloka.com, Kutai Kartanegara – Arus informasi yang bergerak serba cepat di era digital menjadi tantangan serius bagi jurnalis dan media profesional. Di tengah maraknya media sosial, buzzer, hingga news influencer, media dituntut tetap berpegang pada etika dan kaidah jurnalistik agar kepercayaan publik tidak tergerus.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalimantan Timur, Muhammad Faisal, saat membuka secara resmi Retreat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kaltim Tahun 2026, Rabu (21/1/2026).
Faisal hadir mewakili Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud sekaligus menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya retreat jurnalis pertama di Benua Etam.
Menurut Faisal, media saat ini tidak hanya bersaing dengan sesama perusahaan pers, tetapi juga dengan berbagai akun media sosial yang mampu menyebarkan informasi dalam hitungan detik, tanpa selalu mengindahkan prinsip jurnalistik.
“Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi media. Bagaimana media yang legal, kompeten, dan beretika tetap relevan serta dipercaya di tengah banjir informasi instan,” ujarnya.
Ia menilai tema retreat “Jurnalis Masa Kini di Tengah Disrupsi Media dan Turbulensi Ekonomi Daerah” sangat relevan dengan kondisi saat ini. Perubahan teknologi, kata Faisal, menuntut insan pers untuk mengubah cara berpikir, cara bekerja, sekaligus strategi bertahan.
Lebih lanjut, Faisal menegaskan bahwa retreat bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan ruang refleksi dan introspeksi bagi jurnalis untuk menata kembali arah dan peran profesinya. Ia menekankan pentingnya interaksi aktif antara narasumber dan peserta agar kegiatan ini benar-benar memberikan dampak.
Di sisi lain, Faisal juga mengingatkan pentingnya menjaga relasi yang sehat antara media, pemerintah, dan sektor swasta. Menyampaikan informasi positif tentang daerah, menurutnya, bukan berarti menjadi corong kekuasaan, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem informasi dan ekonomi yang seimbang.
“Jika daerah terus diberitakan negatif tanpa keseimbangan, investor bisa enggan masuk dan ekonomi melemah. Pada akhirnya, media juga akan terdampak,” katanya.
Ia berharap Retreat JMSI Kaltim 2026 mampu melahirkan jurnalis yang berpikir lebih jernih, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki daya tahan kuat menghadapi tantangan zaman.
Retreat JMSI Kaltim Tahun 2026 diikuti 25 peserta dari Kutai Kartanegara dan Samarinda, terdiri atas 13 wartawan perempuan dan 12 wartawan laki-laki. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus tumbuh bersama bagi insan pers di Kalimantan Timur.(AuliaRS)