
Karsaloka.com, Kutai Kartanegara – Tradisi Nutuk Beham kembali digelar masyarakat Kutai Adat Lawas di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, selama 23–25 April 2026. Ritual ini menjadi bentuk syukur atas hasil panen sekaligus upaya menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman.
Kegiatan berlangsung secara gotong royong dan terbuka untuk umum. Warga yang ingin ikut cukup membawa padi dalam satuan kaleng.
Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin, menegaskan tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat adat.
“Peserta bebas ikut, tidak dibatasi. Cukup bawa padi ukuran kaleng, bukan kilogram,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Rangkaian dimulai dari pengumpulan padi, lalu direndam minimal satu malam agar melunak. Proses ini bisa berlangsung hingga tiga malam, tergantung kondisi padi. Setelah itu, padi ditiriskan, disangrai dengan tambahan air, lalu ditumbuk hingga bersih.
“Setelah ditumbuk dan dibersihkan, barulah dilaksanakan upacara sakral sebagai bentuk syukur atas hasil panen,” kata Sartin.
Ia menjelaskan, padi memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat adat. Padi dipandang sebagai simbol kehidupan manusia sehingga harus diperlakukan dengan hormat.
“Padi itu wujud kehidupan, jadi tidak boleh diperlakukan sembarangan. Dari situ kami diajarkan untuk menghargai makanan dan tidak membuang nasi,” ujarnya.
Secara turun-temurun, tradisi ini berasal dari kisah leluhur yang berkaitan dengan asal-usul padi dan kehidupan berladang. Dahulu dilaksanakan saat padi mulai menguning sekitar Februari–Maret, namun kini menyesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Meski mengalami perubahan, tradisi tetap dijaga. Pengakuan sebagai masyarakat hukum adat yang diterima pada 2025 semakin memperkuat keberlangsungan budaya ini.
Nutuk Beham tak hanya menjadi ungkapan syukur, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga hutan sebagai sumber kehidupan. Di sisi lain, tradisi ini juga mempererat kebersamaan dan menjaga identitas budaya masyarakat Kedang Ipil.(AuliaRS)